Mencintaimu Karena Allah

Cinta??

“Cinta”, satu kata yang memiliki sangat banyak makna. Memenuhi setiap jejak dalam hidup, bukan saja dirasakan olehnya yang hidup, bahkan yang tak bernyawa sekalipun merasakan apa itu “Cinta”. Tidak jarang banyak yang menangis, terluka karenanya. Tidak sedikit pula yang tersenyum bahkan saat tidur karenanya.  Satu kata memang… tapi tidak semua kita bisa mengerti, tidak semua kita bisa merasakannya, tidak semua kita bisa memberinya, tentunya dengan cara yang benar dan semestinya.

“Aku mencintaimu”, “I love you”, atau kalimat lainnya, sudah tidak asing lagi kita dengar. entah dia paham akan kalimat itu atau hanya asal ucap saja, tak masalah. Kalimat yang indah untuk didengarkan tetapi terkadang sangat sulit untuk diungkapkan. Cinta terbaik adalah saat cinta itu hanya berlabuh kepadanya sang Maha pemiliki “cinta”. Dia yang memiliki sangat banyak Cinta, namun kita banyak yang lupa akan Dia. Kita dilenakan oleh cinta yang sebenarnya dianugerahkan olehNya, sehingga saat cinta itu pergi dunia yang dulunya sama saja menjadi begitu memuakkan, dan menyesakkan. Seandainya setiap kita sadar bahwa Cinta itu Anugerah terindah darinya, dan hanya kita labuhkan karenaNya, Maka cinta itu akan selalu menjadi ndah.

Belajar dari kisah cinta Laila dan Majnun

Cerita Majnun terhadap Laila yang sangat terkenal itu, menunjukkan bahwa majnun akhirnya dibunuh oleh cintanya kepada Laila. Qorun dibunuh karena kecintaan kepada harta benda. Fir’aun dibunuh oleh cintanya terhadap kedudukan. Tapi Hamzah, Ja’far dan Hanzhalah mati karena cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Alangkah jauh jarak yang memisahkan antara keduanya. Setiap orang mencintai akan ada konsekuensi dari apa yang dicintainya, bisajadi sebagai penolongnya di akhirat kelak atau sebaliknya malah menjadi mala petaka baginya.

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Cinta yang abadi adalah cinta yang dibangun atas dasar taqwa kepada Allah, baik itu cinta dalam hal ibadah, maupun cinta karena tabiat seperti cinta kepada anak dan orang tua. Karena cinta yang tidak didasarkan terahadap ketaqwaan hanya mendatangkan kepiluhan dan penyesalan. Maka seseorang hamba hendaknya memperhatikan apa yang ia cintai. Agar cinta seseorang bermanfaat hendaknya dibangun di atas taqwa.

Mencintaimu Karena Allah

Hasna adalah seorang mahasiswa tingkat akhir. Fokus, sangat cuek, dan terkadang sangat ceroboh, itulah beberapa gambaran diri seorang Hasna. Seperti hari ini, Hasna sedang mengikuti seminar di kampusnya, yang kebetulan materinya sangat berhubungan dengan ide penulisan skripsi yang akan ditulisnya. Hasna duduk tidak cukup dengan pembicara, sehingga untuk bisa mendengar dan mencatat semua materi Hasna harus fokus dan tentunya dia tetap cuek dengan sekitarnya.

Amar seorang pria yang sudah lulus, dan kini masih berusaha mencari profesi dan menjadi asisten dosen di kampusnya. Amar yang memiliki banyak waktu luang, secara kebetulan mengikuti seminar dan duduk di belakang Hasna. Amar tidak menyangka bahwa seminar hari ini sangat menarik, sehingga ia datang dengan tangan kosong.

“mbak boleh saya pinjam pulpennya?” tanya Amar kepada Hasna. Hasna tersigap merogoh tasnya tanpa melihat atau menoleh kebelakangnya, ia menyerahkan pulpen kepada Amar dengan pandangan yang masih fokus kepada pembicara. Amar kemudian mencatat beberapa materi di tangannya, namun kemudian ia merasa membutuhkan kertas untuk mencatat. “mbak maaf.. saya boleh minta kertasnya juga?”, tanya Amar lagi kepada Hasna dengan suara setengah berbisik. Kemudian Hasna sama seperti tadi hanya merogoh tasnya dan mengambil kertas dengan asal daan langsung memberikannya kepada orang yang dibelakangnya. Amar menerima kertas yang terlipat tersebut, ia membuka lipatannya dan tiba-tiba ia tertawa, beberapa orang yang mendengarnya menoleh mendengar tawa Amar, tentunya kecuali Hasna yang masih sangat fokus menyimak kajian. Amar menunduk malu, dan masih menahan tawa ia membaca kembali tulisan di kertas tersebut.

“comment peux-tu être aussi parfaite, je t’aime vraiment ..”, itulah kalimat yang terlulis di kertas yang diberikan Hasna kepada Amar. Hasna sewaktu SMA mengikuti kegiatan ekstrakulikuler bahasa Prancis, dan tulisan itu adalah surat cinta ditujukan Hasna kepada salah satu mentornya, begitulah Amar memaknai tulisan yang ditulis oleh Hasna. Bagaimana tidak Amar bisa menahan tawanya, saat ini wanita yang duduk di depannya dengan gamis dan kerudung syar’i menulis sebuah surat cinta dan ejaannya juga masih salah. Amar masih menahan tawanya sambil melihat Hasna dari belakang, sednagkan Hasna yang tidak tahu apa-apa masih tetap fokus dengan catatannya. 

Perkenalan yang Lucu dan Tidak Terlupakan

Akhirnya seminar berakhir, dan semua peserta seminar bergegas keluar begitu juga dengan Hasna dan Amar, Amar berusaha mengikuti Hasna. “mbak..mbak” Amar memanggil Hasna dengan setengah berlari, Hasna berhenti dan menoleh ke arah suara “iya?”. “ini mbak saya mau balikin pulpen” kata Amar sambil menyerahkan pulpen kepada Hasna. “oiya” Hasna menerima pulpen dari Amar, “oh iya mbak, mbak ngerasa ada yng hilang gaa?” tanya Amar kembali sambil tersenyum. Hasna kemudian menatap Amar bingung, dan melihat isi tasnya kemudian Hasna menggeleng pelan karena merasa tidak kehilangan apapun. Kemudian Amar menyodorkan kertas yang sebelumnya diberikan Hasna kepada Amar, “mbak surat cintanya dijaga baik-baik” ujar Amar dengan bahasa Prancis. Wajah Hasna merah akibat malu, dia langsung bergegas meninggalkan Amar yang sudah tidak bisa menahan tawa. “namanya siapa?” teriak Amar kepada Hasna yang sudah terlanjur menghilang dari hadapannya, “Hasna” spontan Hasna menjawabnya dengan teriakan pula. Begitulah Hasan dan Amar bertemu, yaah.. yang mempertemukannya adalah Dia sang Khaliq yang Mahabbahnya teramat luas. Bersambung….

Cerita ini saya tulis berdasarkan salah satu cerpen yang saya baca sewaktu SD. Tapi maaf judul dan pengarangnya saya sudah lupa :), bahkan ceritanya sudah tidak seutuhnya sama dengan aslinya.  Sedikit saya gubah, sebagai, namun insyaAllah pesan yang akan disampaikan dalam cerita akan sama seperti aslinya. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, kejadian, tempat, itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Nantikan kisah Hasna dan Amar di tulisan saya berikutnya:)