Hukum Puasa Bagi Orang Sakit dan Orang Tua

hukum puasa bagi orang sakit dan orang tua

Tentang Puasa,
Karena dapat ilmu bermanfaat semoga memberi manfaat juga ๐Ÿ˜Š
Sumber nya sudah tertulis dibawah ya,
Bukan tulisan sendiri ya ..

๐Ÿ“š *HUKUM PUASA DAN CARA MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG SAKIT DAN ORANG TUA*

Allah subhanahu wa taโ€™ala berfirman,

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู ููŽุนูุฏู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูุฎูŽุฑูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูุทููŠู‚ููˆู†ูŽู‡ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู

โ€œMaka siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya hendaklah membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin.โ€ [Al-Baqoroh: 184]

๐Ÿ“‹ *MACAM-MACAM ORANG SAKIT*

โœ… *Pertama: Sakit yang Masih Diharapkan Kesembuhannya*

Keadaanya ada tiga:

*Keadaan Pertama:* Sakit yang tidak menyusahkan dan tidak membahayakan apabila seseorang berpuasa, seperti sakit yang sangat ringan, yang apabila ia berpuasa tidak memberikan pengaruh apa-apa, maka wajib berpuasa.

Sama dengan orang tua yang tidak merasa berat, tidak pula berpuasa membahayakannya dan masih mampu berpuasa, maka wajib berpuasa.

*Keadaan Kedua:* Sakit yang menyusahkan apabila seseorang berpuasa tapi tidak membahayakan, maka dimakruhkan baginya berpuasa, dan apabila ia tetap berpuasa maka puasanya sah. Dimakruhkan karena Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุคู’ุชูŽู‰ ุฑูุฎูŽุตูู‡ูุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุคู’ุชูŽู‰ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุชูู‡ู

โ€œSesungguhnya Allah mencintai keringanan-keringanan dari-Nya diambil, sebagaimana Allah membenci kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.โ€ [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar radhiyallahuโ€™anhuma, Shahihul Jaamiโ€™: 1886]

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

โ€œPara ulama sepakat bahwa orang sakit yang memberatkan dirinya apabila ia berpuasa maka puasanya sah, dan mereka juga sepakat bahwa orang yang menderita karena suatu penyakit atau merasa lemah untuk berpuasa maka boleh baginya berbuka.โ€ [Maraatibul Ijmaโ€™, hal. 71, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 120]

*Keadaan Ketiga:* Sakit yang membahayakan seseorang apabila berpuasa, seperti tertundanya kesembuhan atau memperparah penyakit, maka wajib atasnya berbuka, tidak boleh berpuasa. Karena Allah taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูู„ู’ู‚ููˆุงู’ ุจูุฃูŽูŠู’ุฏููŠูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ู„ููƒูŽุฉู

โ€œDan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.โ€ [Al-Baqoroh: 195]

๐Ÿ“œ *Apa Kewajibannya?* Kewajibannya adalah meng-qodhoโ€™ di luar bulan Ramadhan, di hari-hari yang tidak terlarang untuk puasa, sejumlah hari-hari puasa yang ia tinggalkan tersebut.

Apabila sakitnya berlanjut sampai Ramadhan tahun berikutnya dan masih tetap diharapkan kesembuhannya atau apabila berpuasa di tahun tersebut masih dikhawatirkan penyakitnya akan kambuh maka tidak apa-apa ia menunda qodhoโ€™ setelah Ramadhan berikutnya.[1]

๐Ÿ“œ *Perhatian:*

โžก Apabila seseorang sakit maka boleh baginya tidak berpuasa sejak awal hari,

โžก Apabila sakitnya di pertengahan hari ketika sedang berpuasa maka boleh baginya berbuka,

โžก Dan apabila sakitnya sembuh di pertengahan hari setelah sebelumnya tidak berpuasa atau telah berbuka maka ia tidak perlu melanjutkan puasanya dan tidak sah apabila ia berpuasa.

โžก Akan tetapi bolehkah ia makan dan minum atau berhubungan suami istri? Pendapat yang benar insya Allah adalah boleh, karena ia tidak wajib berpuasa atau ia berbuka karena sebab yang dibolehkan oleh syariโ€™at. Sahabat yang Mulia Ibnu Masโ€™ud radhiyallahuโ€™anhu berkata,

ู…ู† ุฃูุทุฑ ุฃูˆู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูู„ูŠูุทุฑ ุขุฎุฑู‡

โ€œBarangsiapa dibolehkan berbuka di awal hari maka boleh baginya berbuka di akhirnya.โ€ [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 3/54]

โžก Demikian pula orang yang telah sembuh dari sakitnya, seperti orang yang gagal ginjal kemudian melakukan operasi pencangkokkan ginjal, lalu menjadi sehat, dan dokter spesialis yang terpercaya mengatakan bahwa walau ia sudah sehat namun apabila berpuasa akan menyebabkan sakitnya kambuh, maka ia boleh berbuka.

โžก Atau ia diharuskan minum air di siang hari jika tidak maka sakitnya akan kambuh, maka wajib baginya berbuka, tidak boleh berpuasa. Apabila ia tidak bisa berpuasa berkepanjangan maka termasuk sakit dalam bentuk yang kedua berikut ini.

โœ… *Kedua: Sakit yang Berkepanjangan dan Tidak Dapat Diharapkan Kesembuhannya dan Orang Tua yang Sudah Tidak Sanggup Berpuasa*

Orang yang sakit berkepanjangan dan tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya menurut persaksian para dokter yang terpercaya,[2] hukumnya sama dengan orang tua yang merasa berat berpuasa.

Demikian pula orang tua yang apabila berpuasa akan membahayakannya menurut persaksian dokter yang terpercaya atau sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka boleh bagi mereka berbuka dan wajib membayar fidyah.

Adapun orang tua yang tidak merasa berat, tidak pula membahayakannya dan masih mampu berpuasa, maka wajib berpuasa. Allah taโ€™ala berfirman,

ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‡ ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’

โ€œMaka bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu.โ€ [Ath-Thagaabun: 16]

Dan firman Allah taโ€™ala,

ู„ุงูŽ ูŠููƒูŽู„ู‘ููู ุงู„ู„ู‡ ู†ูŽูู’ุณู‹ุง ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูุณู’ุนูŽู‡ูŽุง

โ€œAllah tidak membebani satu jiwa kecuali sesuai kemampuannya.โ€ [Al-Baqoroh: 286]

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

ูˆุฃุฌู…ุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู† ู„ู„ุดูŠุฎ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ูˆุงู„ุนุฌูˆุฒ ุงู„ุนุงุฌูุฒูŽูŠู’ู† ุนู† ุงู„ุตูˆู… ุฃู† ูŠูุทุฑุง

โ€œPara ulama sepakat bahwa orang tua dan orang yang tidak mampu berpuasa, boleh berbuka.โ€ [Al-Ijmaโ€™, 60, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 123]

๐Ÿ“œ *Apa Kewajibannya?* Allah taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูุทููŠู‚ููˆู†ูŽู‡ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya hendaklah membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin.โ€ [Al-Baqoroh: 184]

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahuโ€™anhuma berkata,

ู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ุจูู…ูŽู†ู’ุณููˆุฎูŽุฉู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุฎู ุงู„ูƒูŽุจููŠุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุงู„ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู ู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนูŽุงู†ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽุงุŒ ููŽูŠูุทู’ุนูู…ูŽุงู†ู ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ู‘ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง

โ€œAyat ini tidak di-mansukh (tidak dihapus hukumnya) bagi laki-laki tua dan wanita tua yang tidak mampu berpuasa, hendaklah memberi makan untuk setiap hari puasa satu orang miskin.โ€ [Riwayat Al-Bukhari]

๐Ÿ“œ *Bagaimana Cara Mengetahui Macam-macam Sakit?*

*Pertama:* Dengan pengalaman, apabila seseorang telah pernah mencoba berpuasa dan terbukti bahwa puasa memberatkannya atau memperlambat kesembuhannya, maka hendaklah ia berbuka.

*Kedua:* Dengan pengabaran seorang dokter muslim yang ahli dan terpercaya.

*Ketiga:* Dengan persangkaan yang kuat bahwa penyakitnya tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya maka hendaklah ia berbuka dan membayar fidyah.[3]

๐Ÿ“‹ *CARA MEMBAYAR FIDYAH*

*Pertama:* Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 shoโ€™ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya.[4]

Nilai ยฝ shoโ€™ berdasarkan sabda Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam,

ู„ููƒูู„ู‘ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู ู†ูุตู’ููŽ ุตูŽุงุนู

โ€œSetiap satu orang miskin setengah shoโ€™.โ€ [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Kaโ€™ab bin โ€˜Ujroh radhiyallahuโ€™anhu]

*Kedua:* Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahuโ€™anhu,

ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุทู’ุนูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ูŽุณูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽุง ูƒูŽุจูุฑูŽ ุนูŽุงู…ู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุงู…ูŽูŠู’ู†ูุŒ ูƒูู„ู‘ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุงุŒ ุฎูุจู’ุฒู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุญู’ู…ู‹ุง

โ€œAnas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.โ€ [Riwayat Al-Bukhari]

๐Ÿ“œ *BEBERAPA PERMASALAHAN TERKAIT FIDYAH*

โžก Fidyah hendaklah diberikan dalam bentuk makanan tidak diuangkan,[5] karena Allah taโ€™ala berfirman,

ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู

โ€œMembayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.โ€ [Al-Baqoroh: 184]

โžก Dan para sahabat radhiyallahuโ€™anhum membayar fidyah dalam bentuk makanan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahuโ€™anhu.

โžก Kualitas makanan fidyah hendaklah sama dengan yang biasa kita dan keluarga kita makan.[6]

โžก Fidyah boleh dibayarkan kepada satu orang miskin karena dalil tidak menentukan berapa orang miskin, berbeda dengan kaffaroh jimaโ€™, wajib dibagi kepada 60 orang miskin, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah.

โžก Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadhan.

โžก Bagi yang tidak mampu berpuasa dan tidak pula mampu membayar fidyah maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ูˆูŠูƒููŠ ุฏูุน ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ูู‚ูŠุฑ ูˆุงุญุฏุŒ ูˆุฅู† ุนุฌุฒุช ุนู† ุงู„ุฅุทุนุงู… ุณู‚ุท ุนู†ูƒ

โ€œBoleh membayar fidyah kepada satu orang fakir, jika engkau tidak mampu maka hilang kewajiban membayar fidyah darimu.โ€ [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268]

Disebutkan juga dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ูˆูŠูƒููŠ ุฏูุน ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ู…ุณูƒูŠู† ูˆุงุญุฏ ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุดู‡ุฑ ุฃูˆ ุฃุซู†ุงุฆู‡ ุฃูˆ ุขุฎุฑู‡

โ€œBoleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal bulan Ramadhan, atau pertengahan dan akhirnya.โ€ [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268 dan 9/128 no. 17029]

โžก *Apabila Orang Sakit yang Sudah Tidak Diharapkan Kesembuhannya Ternyata Sembuh, Apa Kewajibannya?*

โ€œSudah mencukupinya fidyah yang telah ia keluarkan dahulu setiap satu hari puasa yang ia tinggalkan, dan tidak wajib baginya meng-qodhoโ€™ puasa selama bulan-bulan waktu sakitnya tersebut, karena ketika itu ia dalam keadaan memiliki udzur dan ia telah melakukan kewajibannya saat itu.โ€ [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/196 no. 4681]

โžก Demikian pula sebaliknya, apabila sakitnya masih diharapkan kesembuhannya pada awalnya, kemudian ternyata berlanjut terus dan tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka hendaklah ia membayar fidyah sebanyak hari-hari puasa yang telah ia tinggalkan tersebut.[7]

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”

[1] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/185 no. 2433.

[2] Lihat Majmuโ€™ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175.

[3] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 2143.

[4] Lihat Majmuโ€™ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175.

[5] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 5750.

[6] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129.

[7] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129.

๐Ÿ’พ Sumber:

Baca Juga : Apa yang pantas kita sombongkan?